Pekalongan (ICP) – Dunia pendidikan kembali dikejutkan dengan kejadian bunuh diri yang dilakukan oleh seorang gadis berumur 11 tahun di Malaysia. Dilansir dari indozone.id, gadis tersebut bunuh diri usai dihukum oleh gurunya hanya karena menuliskan surat cinta. Lantas. sebagai faktor penting dalam membangun generasi muda, apakah sistem pendidikan kurang memiliki nilai humanisme?

Menanggapi hal tersebut, Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D. selaku Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI yang berkunjung ke MAN Insan Cendekia Pekalongan pada hari Kamis (12/09) justru mengatakan, “Oh, tidak! Justru di dalam sistem pendidikan itulah humanisasi diterapkan”.

Sistem pendidikan ialah kegiatan humanisasi dimana pendidikan itu sendiri memanusiakan manusia. Meski begitu, ada beberapa masalah yang kerap terjadi, yaitu:

  1. Pengajaran yang tidak seimbang

Dalam dunia pendidikan di Indonesia, guru lebih sering memberikan hukuman (Punishment) dibanding memberikan hadiah (Reward). Akibatnya, peserta didik yang menerima sikap koersif akan lebih sering tertekan dan cenderung tidak berkembang.

  1. Dikotomi pelajaran

Di tingkat SLTA (SMA/SMK/MA), masing-masing sekolah masih menerapkan dikotomi pelajaran. Seperti SMA yang memfokuskan pada pelajaran umum dan hanya memberi porsi sedikit untuk pelajaran agama. Sedangkan di lain sisi, MA lebih memfokuskan pada pelajaran agama sehingga pelajaran umum di MA kurang berkembang.

  1. Sertificated Oriented

Seringkali kita melihat orang-orang yang bersekolah hanya mementingkan ijazah (Sertificated) daripada pengembangan intelektual dan karakter. Menurut beliau, mereka lebih dikenal dengan sebutan STIY (Sekolah Tidak, Ijazah Iya) atau STIE (Sekolah Tidak, Ijazah Entuk [Bahasa Jawa: Dapat].

  1. What Oriented Education

Dunia pendidikan di Indonesia khususnya, lebih sering menggunakan pertanyaan What Daripada pertanyaan Why. Sehingga, akal sehat (Common Sense) yang dimiliki peserta didik tidak berkembang. Pendidikan beriorentasi pada hafalan, bukan pemecahan masalah (Problem Solving).

  1. Abdullah La Khalifatullah

Masih berkaitan dengan dikotomi pelajaran, peserta didik saat ini hanya mempelajari nilai-nilai religi daripada sikap tanggung jawab seperti yang dilakukan oleh Para Khalifah. Metode Khalifatullah akan membimbing peserta didik untuk bersikap Hablum Min Allah Wa Hablum Min Al-Nas.

Mengenai solusi yang diberikan oleh Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, beliau menyampaikannya melalui buku yang berjudul “Humanisme Religius Sebagai Paradigma Pendidikan Islam”. Di buku tersebut, beliau menjelaskan bahwa sistem humanisasi religi sudah diterapkan dalam Konstitusi Madinah yang merupakan The World First Written Constitution.

Beliau pun memuji Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai Founding Father MAN Insan Cendekia yang mana memiliki sistem pendidikan yang berbeda. MAN Insan Cendekia menghilangkan dikotomi pelajaran dan memadukan antara pelajaran umum dan agama sebagaimana pemikiran tentang pengembangan IPTEK dan IMTAQ yang disuarakan oleh B. J. Habibie.

MAN Insan Cendekia Pekalongan khususnya, juga ikut memadukan antara pelajaran umum dan agama. Selain itu, MAN Insan Cendekia yang berada di Pekalongan yang dikenal sebagai Kota Santri juga menerapkan tradisi pesantren seperti Kajian Kitab.

Di akhir wawancara, beliau berpesan kepada seluruh siswa/i MAN Insan Cendekia agar bisa mengembangkan IPTEK dan IMTAQ sebagai jawaban atas segala masalah nasionalisme sebagaimana yang dikatakan dalam kalimat Hubbu Al-Wathan Min Al-Iman. (Rep/Ft: Hanif)