Saya adalah Indonesia”.

Kalimat tersebut berulang kali diteriakkan oleh Bapak Ari untuk mengobarkan api semangat 45 saat seminar kebangsaan yang diadakan pada hari Rabu, 4 September 2019 bertempat di Amarta Setda Kota Pekalongan.

Seminar kebangsaan yang mengusung tema “Sosialisasi Pembudayaan Nilai-Nilai Kejuangan 45 bagi Generasi Muda” itu dihadiri oleh berbagai figur masyarakat dari Kota Pekalongan. Materi yang menarik dijalani oleh seluruh siswa/i dari SMK/SMA/MA Kota Pekalongan dengan semangat yang membara.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. Sudarto M.A. yang berisikan tentang membudayakan jiwa semangat nasional 45 atau yang sering disingkat JSN 45. Beliau menyatakan bahwa pada zaman milenial ini, JSN 45 sudah menjadi barang langka. Beliau menyatakan bahwa faktor utama tergerusnya JSN 45 pada diri generasi muda adalah karena pengutamaan hak asasi manusia.

Meski mengutamakan hak asasi manusia ialah hal yang bagus, tapi melakukan hal tersebut bisa menjadi boomerang bagi diri kita sendiri. Bila seseorang mengutamakan hak asasi manusia, dikhawatirkan ia akan meninggalkan persatuan karena pikirannya hanya berorientasi pada hak yang ia inginkan.

“Lantas, bagaimana kita kembali utuh?” tanya Dr. Sudarto, M.A. di pagi itu.

Pembudayaan JSN 45 merupakan salah satu jalan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan adanya jiwa yang dilandasi semangat nasional 45, generasi muda saat ini akan memiiliki nilai-nilai nasionalisme dan patriotism yang tumbuh di dalam dirinya.

Setelah itu, materi dilanjutkan oleh perwakilan dari Kodim yang bernama, Bapak Dwi Darmasto. Beliau sangat energik saat menyampaikan materi yang membuat kami terus terjaga waktu itu. Beliau pun menguraikan banyak cara yang bisa dilakukan oleh generasi muda sebagai bentuk peningkatan bela negara dan wawasan kebangsaan.
Materi dilanjutkan oleh Drs. Tjuk Kushindarto yang dibuka dengan fakta menarik. Beliau berkata bahwa Indonesia memiliki panggilan unik di mata dunia, yaitu “Republik Media Sosial”. Nama tersebut disandangkan kepada Indonesia karena berada di peringkat 1 dunia sebagai pengguna media sosial baik Twitter, Facebook, dan Instagram.

Waktu terus berlalu, hingga pembicara terakhir mulai berbicara. Beliau adalah Drs. H. Akhmad Zaeni, M.Ag, yang berprofesi sebagai seorang dosen di IAIN Pekalongan. Beliau pun membuka materi yang berjudul “Nasionalisme dalam Bingkai Religius”.

Beliau menyatakan bahwa nasionalisme memiliki arti lain dalam bahasa Arab. Yaitu Sya’bun dan Baladun. Dalam bahasa Arab, Sya’bun berarti “Berbangsa”, sedangkan Baladun berarti “Bernegara”. Di tengah materi, beliau menyebutkan lima komponen dalam berbangsa dan bernegara, yaitu:

  • Agamawan
  • Cendekiawan
  • Pemerintah
  • Ekonomi
  • Angkatan bersenjata

Lantas, bagaimana upaya yang bisa dilakukan sebagai bukti nasionalisme dalam bingkai religius?

Di akhir materi, beliau berkata bahwa satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan pengajaran berbasis Kurtilas. Kurtilas berbeda dari KTSP yang mengorientasikan pendidikan akademik. Kurtilas tidak hanya mengorientasikan pendidkan akademik, tetapi juga pendidikan karakter.

Di akhir seminar, pembawa acara memberikan sekian waktu untuk sesi tanya jawab. Saya segera mengacungkan tangan dan bertanya, “Bagaimana cara menyikapi media sosial yang notabene-nya sudah menjadi ruh dari generasi milenial tanpa menghilangkan rasa nasionalisme?”

Bapak Djuk menjawab pertanyaan tersebut, beliau berkata bahwa kita sebagai generasi milenial haru bisa memilah berita-berita yang tersebar di media sosial. Beliau juga berkata bahwa rasa nasionalisme bisa ditumbuhkan dengan mengetahu prestasi yang diraih oleh Indonesia.

Intinya, seminar kebangsaan mengajak kita untuk membudayakan jiwa semangan nasionalisme 45. Selain itu, rasa nasionalisme dan patriotism juga bisa diraih dengan mengenal budaya di Indonesia. Jadi, ayo kita sama-sama meningkatkan JSN 45 demi Indonesia yang lebih baik di masa depan.(Rep/Ft: Hanif)