Pekalongan (ICP) – MAN Insan Cendekia Pekalongan menggelar Upacara Bendera sekaligus membuka kegiatan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) sebagai penanda dimulainya Tahun Ajaran 2026/2027. Kegiatan yang berlangsung di lapangan upacara pada Senin (13/7/2026) tersebut diikuti oleh seluruh guru, tenaga kependidikan, serta murid MAN IC Pekalongan.
Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala MAN IC Pekalongan, Khoirul Anam, mengajak seluruh warga madrasah untuk menjadikan MAN IC Pekalongan sebagai pusat peradaban, yakni tempat lahirnya generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam akhlak, spiritualitas, dan kepemimpinan.
Menurutnya, membangun pusat peradaban bukan sekadar membangun gedung yang megah, melainkan membangun manusia yang berilmu, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Ia mencontohkan Kota Madinah pada masa Rasulullah SAW sebagai pusat peradaban Islam yang mampu mengubah dunia berawal dari sebuah masjid yang sederhana.
“Dari Masjid Nabawi lahir peradaban besar. Artinya, peradaban tidak dimulai dari kemewahan bangunan, tetapi dari manusia yang bertakwa dan memiliki visi besar,” ungkapnya.
Dalam amanatnya, ia menyampaikan lima pilar utama membangun pusat peradaban.
Pertama, pondasi berupa ketakwaan. Mengutip firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah ayat 108, ia menjelaskan bahwa segala pembangunan harus berlandaskan nilai ketakwaan. Masjid pada masa Rasulullah tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, hingga penyelesaian konflik.
Kedua, ilmu pengetahuan sebagai pilar utama. Ia mengingatkan kejayaan peradaban Islam lahir dari tradisi ilmu yang kuat melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti Baitul Hikmah di Baghdad dan Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko. Dari tradisi tersebut lahir tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Al-Farabi.
“Bangunlah perpustakaan dan madrasah sebelum membangun pusat-pusat hiburan. Ilmu adalah fondasi kemajuan sebuah bangsa,” pesannya.
Ketiga, akhlak dan keadilan sebagai atap peradaban. Ia mencontohkan Piagam Madinah sebagai salah satu konstitusi yang menjunjung tinggi toleransi, keadilan, dan perlindungan hak setiap warga. Menurutnya, banyak peradaban runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena hilangnya integritas, kezaliman, dan korupsi.
Keempat, ekonomi syariah sebagai dinding yang menguatkan. Kepala madrasah menjelaskan bahwa pasar Madinah dibangun di atas prinsip kejujuran, bebas riba, monopoli, dan penipuan. Semangat zakat, infak, sedekah, dan wakaf harus dipahami sebagai sistem pemberdayaan umat, bukan sekadar amal sosial.
Kelima, silaturahmi global sebagai jendela peradaban. Ia menegaskan bahwa penyebaran Islam ke berbagai belahan dunia berlangsung melalui perdagangan, dakwah, dan ilmu pengetahuan. Karena itu, generasi MAN IC Pekalongan harus memiliki wawasan global serta mampu menjadi solusi bagi masyarakat dunia tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Mengakhiri amanatnya, Kepala MAN IC Pekalongan mengajak seluruh murid baru Angkatan XII untuk memanfaatkan MATAMUDA sebagai awal perjalanan membangun karakter, memperkuat akhlak, menumbuhkan budaya belajar, serta mengukir prestasi.
“Selamat datang di MAN Insan Cendekia Pekalongan. Jadilah generasi yang bukan hanya mengejar prestasi, tetapi juga menjadi pelopor lahirnya peradaban yang berilmu, berakhlak, dan membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa,” pungkasnya. Rep/Ft: Sim

MAN Insan Cendekia Pekalongan | Gemilang (Gerakan Madrasah Indah Lahirkan Bintang)