Buku ini mengulas masa kolonial inggris di jawa. Pendudukan Inggris di Tanah Jawa (1811–1816) berlangsung singkat sebagai dampak dari Perang Napoleon di Eropa. Di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles, Inggris menerapkan kebijakan liberal yang bertujuan menghapus sistem feodal dan kerja paksa, namun ironisnya tetap diwarnai penindasan militer
Buku ini berisi sejarah nusantara dari zaman kerajaan hindu-budha, perkembangan islam, masa kolonialisme hingga era pasca kemerdekaan, mengupas tuntas apa yang sesungguhnya tersembunyi di balik cerita-besar sejarah indonesia.
Buku ini mengulas tentang karya historis yang menelusuri kisah kesetiaan, perjuangan, dan kesaksian orang-orang terdekat Soekarno. Buku ini mengungkap sisi humanis dan loyalitas tinggi pengawal fisik maupun nonfisik dalam melindungi Bung Karno, khususnya di masa-masa kritis, serta meluruskan sejarah.
Buku ini merangkum ekspedisi ilmiah selama delapan tahun di Nusantara yang menjadi dasar teori evolusi dan Garis Wallace. Isi buku mencakup dokumentasi keanekaragaman hayati, pengamatan geografi fauna, serta kajian antropologi budaya masyarakat lokal pada abad ke-19.
Buku ini merupakan catatan perjalanan abad ke-19 yang mendokumentasikan kekayaan alam dan budaya Jawa untuk masyarakat Barat. Buku ini mengulas detail geografi vulkanik, keramahan sosial, situs sejarah, dan seni tradisional yang membentuk identitas Pulau Jawa. Sebagai dokumen historis, karya ini menyajikan potret komprehensif keindahan dan peradaban Jawa pada zamannya.
Dalam buku ini, pembaca akan diajak untuk menyusuri peristiwa-peristiwa oenting yang membrntuk perjalanan Kediri, dari kelahiran, masa keemasan, hingga kehancurannya. Jejak peninggalan Kediri masih dapat kita saksikan hingga kini, tidak hanya dalam prasasti dan candi, tetapi juga dalam narasi yang diwariskan kepada generasi berikutnya
Buku ini ditutup dengan refleksi dari K.H. Husein Muhammad mengenai persamaan serta perbedaan karakter antara Gus Dur, Gus Mus, dan dirinya sendiri. Esensi keseluruhan dari buku ini adalah mengajarkan masyarakat untuk senantiasa menghadapi ruwetnya zaman dengan hati yang lapang, toleran, dan "enteng-enteng saja" sebagaimana cara Gus Dur dan Gus Mus menjalani hidup mereka.
Kita hanya memiliki Pramoedya Ananta Toer. Setelah dia, tidak ada lagi. Karya-karyanya pilih tanding. Bahkan catatan, foto, atau video akan merasa takluk pada ketajaman pena Pram dalam menggambarkan latar ekhdupan era kolonial. Siapa pun yang ingin "merasakan" hidup pada masa penjajahan, bacalah karya Pram--da, sayangnya, ini adalah satu-satunya. Melalui buku ini, pembaca akan diperkenalkan sec…
Buku in hadir bukan sekedar sebagai rangkaian catatan biografi tentangnya, melainkan refleksi atas semangat seorang pemimpin yang berani memilih jalan berbeda demi kebenaran dan martabat bangsanya.
Buku ini menyakikan uaraian secara khusus beberapa konteks yang berpengaruh besar dalam perjalanan kehidupan pangeran sambernyawa. antara lain perjanjian giyanti, yang membagi kesuktanan mataram menjadi dua kekuatanL perjanjian salatiga, yang menjadi dasar pendirian kadipaten Mangkunegara. Buku ini meliputi sejarah berdirinya kesultanan mataram serta suksesi para raja.