Buku ini membahas tentang rivalitas, sejarah hidup, dan sisi kemanusiaan dari dua pimpinan besar dalam perang salib ketiga, yaitu Salahuddin Al-Ayyubi dan King Richard (Richard I dari Inggris)
Dia lah Mohammad Hatta, seorang nasionalis sejati, Bapak Bangsa, penyusun UUD 1945 dan Teks Proklamasi Kemerdekaan, serta Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia. Beliau juga seoang diplomat ulung, Bapak koperasi Indonesia, sert aseorang yang cinta damai. Satu lagi kualitas beliau yang jarang dijumpai dalam diri politisi lain, bahwa Mohammad Hatta adalah negarawan yang menulis. Buku ini akan …
Buku ini mengisahkan konflik persaingan antara Kerajaan Ternate dan Tidore akibat adu domba Portugis demi menguasai perdagangan rempah-rempah
Yerusalem, Yerusalem: Memoar Perang dan Damai, Gairah dan Politik dalah memoar jurnalistik mendalam yang menyoroti realitas sosial, psikologis, dan politik Yerusalem dari sudut pandang personal, yang ditulis berdasarkan kunjungan perpisahannya pada tahun 1984. Buku ini menyajikan potret autentik kehidupan sehari-hari, menelusuri ketegangan antara kelompok Yahudi religius dan sekuler, serta memb…
Buku ini mengulas latar belakang berdirinya Majapahit, era keemasan Raja Hayam Wuruk, hingga ambisi politik Mahapatih Gajah Mada dalam mewujudkan Sumpah Palapa. Konflik memuncak ketika rencana pernikahan diplomatik antara Hayam Wuruk dan Putri Dyah Pitaloka diubah sepihak oleh Gajah Mada menjadi tuntutan tunduk, memicu pertempuran asimetris di Lapangan Bubat yang menewaskan seluruh rombongan Ke…
Karya ini membahas konflik dua abad (1095–1291 M) antara Kristen Eropa dan Islam, mengungkap perpaduan antara motivasi agama, politik, dan ekonomi. Buku ini mendekomposisi mitos perang suci dengan menyoroti ambisi kekuasaan, perebutan harta, dan taktik militer tokoh seperti Salahuddin Al-Ayyubi.
Buku ini menyajikan rekaman kronologis utuh mengenai evolusi Jakarta yang bertransformasi dari pelabuhan tradisional menjadi metropolis global. Fokus utama buku ini adalah mengupas bagaimana identitas sebuah kota dibentuk oleh benturan kekuasaan, perdagangan, dan asimilasi budaya selama berabad-abad.
Buku ini ditutup dengan refleksi dari K.H. Husein Muhammad mengenai persamaan serta perbedaan karakter antara Gus Dur, Gus Mus, dan dirinya sendiri. Esensi keseluruhan dari buku ini adalah mengajarkan masyarakat untuk senantiasa menghadapi ruwetnya zaman dengan hati yang lapang, toleran, dan "enteng-enteng saja" sebagaimana cara Gus Dur dan Gus Mus menjalani hidup mereka.