Buku ini mengupas tentang dua mode dasar eksistensi manusia. Buku ini mengeksplorasi pilihan antara orientasi "memiliki" yang berpusat pada harta dan kekuasaan, serta orientasi "menjadi" yang berfokus pada aktualisasi diri dan cinta kasih yang sejati.
Buku ini memberikan pembacaan baru tentang kekuasaan feminin, khususnya dalam tradisi dan konteks politik jawa. Melalui eksplorasi arketipe ibu, penulis menggambarkan bagaimana kuasa perempuan bukanlah sesuatu yang subordinat, melainkan sesuatu yang inheren dan signifikan, terutama dalam budaya yang menjunjung tinggi simbol keibuan