Buku ini berisi kumpulan cerpen-cerpen yang dapat diibaratkan sebagai lukisan impresionistis untuk menangkap momen yang melintas begitu cepat. Setiap cerpen dalam buku ini berisi ingatan, mimpi, pemikiran, dan pencerapan indrawi yang diramu sangat peka dan sudut pandang berganti-ganti.
Dalam buku ini, Farizal Sikumbang sangat jernih menceritakan manusia-manusia yang hidup dalam kebudayaan dan situasi lokal daerahnya. Lokalitas tersebut tidak cuma sebagai bumbu-bumbu, tempelan-tempelan, apalagi jualan eksotisme, melainkan menjadi baian terpenting dari konflik cerita yang ia tulis
Dengan gaya bahasa yang ringan dan lancar, cerpen-cerpen Satmoko mampu menyajikan berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya ke dunia cerita secara menarik dan memunculkan kesadaran reflektif pada pembaca
Ia merasa seperti kelinci abu-abu muda yang ditarik dari dalam topi panjang oleh pesulap berbaju setelan wol hitam. Sebelumnya, ia tersembunyi dalam gelap pekat lalu kupingnya terpegang lalu tubuhnya terangkat lalu ia dihujani cahaya. "B," kata lelaki itu. Namamu B." Saat itu, ia terlahir kembali
Buku ini menyajikan narasi magis dan kritik tajam terhadap isu lingkungan dan kerusakan alam.
Alam kerap mengirim pertanda akan datangnya suatu kejadian besar. Malam itu, langit berubah serupa bejana air raksasa yang dibalikkan, hingga menumpahkan seluruh isinya. Ada yang mengenangnya sebagai malam tergulita yang pernah menyungkupi kampung. Hujan menggemuruh, angin menebar tempias, membuat orang lebih memilih merapatkan kemul sarung. Area istal senyap, deretan bendi membisu, kuda-kuda t…