Novel ini menceritakan kisah cinta Hanna dan Syauqi yang bertemu dalam ruang dengan pemikiran-pemikiran yang berbeda. Banyak kejadian yang kemudian membuat mereka saling jatiuh cinta.
Cerita ini berfokus pada sekelompok hewan ternak yang memberontak terhadap pemilik peternakan yang kejam. Niat untuk menciptakan masyarakat yang setara dan adil justru berujung pada kediktatoran baru yang menindas akibat penyalahgunaan kekuasaan oleh para pemimpin babi.
Buku ini bercerita tentang seorang pria yang berjuang menghadapi dilema personal dan batasan dalam berekspresi.
Buku ini menarasikan Madura sebagai entitas yang cair—mengalami dialektika antara tradisi, pengaruh Jawa-Islam, dan modernitas—menolak pandangan khayali yang menganggap budaya Madura stagnan atau hanya sekadar stereotipe.
Buku ini tidak berisi narasi fiksi atau cerita bersambung, melainkan jajaran puisi puitik yang tersusun secara kronologis mengikuti alur pernikahan tradisional Jawa. Penulis mengumpulkan informasi dari para sesepuh adat untuk menafsirkan ulang tradisi tersebut ke dalam bahasa modern yang mengalir tenang.
Di dalam kisah-kisah ini, manusia dalam bencana tidak melulu menjadi subjek-pasif yang dilabeli sebagai "yang terdampak". Mereka bergerak pula sebagai "yang berdampak", "yang ingin memahami", dan terutama sebagai "yang ingin menerima"
Buku ini merupakan buku yang berisikan panduan bagi siapa saja yang ingin terampil dan cerdas menulis puisi. Buku ini sebagian besar bertumpu dari pengalaman penulis yang telah lebih dari tiga tahun menjalani hidup sebagai penulis puisi.